PERAN RIWAYAT KELUARGA DALAM PENINGKATAN RISIKO PENULARAN HEPATITIS B
Terdapat 284-352 Juta Orang di dunia terkena Hepatits B kronis. Secara global, Pada tahun 2010 terdapat kematian sebesar 850.000 akibat terinfeksi Hepatitis B dan Orang yang bertahan hidup dengan mengidap HBV sebanyak 290 juta jiwa. (Nayagam et al. 2016). Pada tahun 2019, Prevalensi dari Hepatitis B secara Global untuk semua kelompok usia yaitu 4,1%. Pada tahun 2019 prevalensi tertinggi didunia terdapat pada wilayah pasifik barat sebesar 7,1%, kemudian pada wilayah afrika sebesar 6,5%. Sedangkan prevalensi terendah pada tahun yang sama yaitu pada wilayah eropa sebesar 1,1%(Sheena et al. 2022). Pada wilayah Sub-Sahara Afrika prevalensi Hepatitis B sebanyak 41% dan pada wilayah subregional prevalensi dari Hepatitis B mencapai 8%(Alberts et al. 2022). Menurut laporan epidemiologi, terdapat sekitar 400 juta orang di seluruh dunia yang terinfeksi oleh virus hepatitis B (HBV), dengan sekitar 170 juta di antaranya tinggal di wilayah Asia Pasifik. Salah satu daerah dengan tingkat endemisitas tinggi adalah China, di mana sekitar 93 juta orang terinfeksi. Indonesia menempati peringkat ketiga setelah China dan India, dengan prevalensi infeksi berkisar antara 5-17%.
Di Indonesia kasus hepatitis B menjadi salah satu penyakit infeksi yang memiliki prevalensi cukup besar. Pada tahun 2022 total masyarakat Indoenesia yang terinfeksi hepatitis B sebanyak 17.500.000 (World Health Organization. 2024). Di Indonesia total virus hepatitis B menjadi penyakit kronis berkurang sebanyak 50% di Indonesia namun kasus hepatitis B secara keseluruhan pada tahun 2021 meningkat hingga 2,5 kali (Dwiartama et al. 2022). Salah satu penelitian yang dilakukan oleh (Lusida, Juniastuti, and Yano 2016) yaitu pada unit hemodialisis swasta disurabaya prevalensi infeksi hepatitis B mencapai 0-8,1%.
Hepatitis B merupakan penyakit yang disebabkan karena terinfeksi oleh HBV. Penularan HBV dapat terjadi melalui berbagai perantara. Penelitian yang dilakukan oleh (Jentsch et al. 2024) menunjukan bahwa penularan Hepatitis B dapat melalui hubungan seks anal lebih dari satu pasangan. Faktor lainnya yaitu transmisi yang disebabkan dari ibu ke anak selama kehamilan, pengetahuan ibu juga merupakan salah satu faktor meningkatnya kasus Hepatitis B. Penelitian yang dilakukan oleh (Lisker-melman et al. 2021) menunjukan bahwa ibu yang memiliki pengetahuan yang baik yang memberikan vaksin pencegahan untuk penyakit Hepatitis B. Hepatitis B juga dapat di sebabkan oleh adanya penularan yang disebabkan karena adanya riwayat penyakit keluarga dengan HBV(Tesfu, Habtemariam, and Berhe Belay 2023). Kambuhnya Penyakit hepatitis B dapat juga dipicu karena adanya faktor kecemasan atau depresi seseorang yang kemudian dapat memicu kambuhnya penyakit Hepatitis B (Tsai et al.2022). Sebanyak lebih dari 65% penderita yang terinfeksi virus hepatitis B tidak menunjukkan gejala (asimptomatik), sedangkan sisanya mengalami keluhan ringan yang menyerupai flu, seperti demam, kelelahan, mual, muntah, nyeri sendi, dan penurunan berat badan. Infeksi yang tidak terlihat ini sering kali membuat penderita merasa sehat dan tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi, sehingga dapat menularkan virus kepada orang lain tanpa disadari. Pada tahap lanjut, gejala akut dapat muncul, termasuk urin berwarna kuning gelap, feses pucat, nyeri di area perut, serta kulit dan mata yang menguning.
Hepatitis B yaitu karena informasi tentang penularan hepatitis B masih belum banyak masyarakat yang mengetahui sumber sumber penularan dari hepatitis B (Dwiartama et al.2022). Untuk Mecegah terjadinya peningkatan kasus hepatitis B maka dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan sebelum 20 minggu kehamilan atau pada ANC pertama. Seorang anak yang lahir dari ibu yang positif hepatitis B maka perlu melakukan pemeriksaan dan diberikan vaksinnasi HBV(Anwar et al. 2023) Penderita Hepatitis B terkhususnya pada ibu hamil akan memiliki dampak yang buruk pada janin yang dikandungnya sehingga dapat melahirkan anak dengan penyakit Hepatitis B pula (Anwar et al. 2023)